Palembang City   4 comments


Menyusuri Masa Lalu Kota Legenda


Palembangidentik dengan Pempek, Sungai Musi dan Jembatan Ampera. Ketiganya tidak bisa dipisahkan ketika kita membicarakan ibukota Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) ini. Sebenarnya masih banyak objek wisata lain yang bisa dinikmati diPalembang, salah satunya objek wisata sejarah. Dengan menyusuri objek-objek tersebut, kita bisa menyibak masa lalukotalegenda ini.

Kotatertua diIndonesiaini dulunya dikelilingi oleh air, bahkan terendam air yang bersumber dari sungai, rawa maupun air hujan. Mungkin karena kondisinya selalu begitu, nenek moyang menamakankotaini sebagaiPalembangdalam bahasa Melayu “Pa” atau “Pe” sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan. Sedangkan “Lembang” atau “Lembeng” adalah genangan air. Jadi Palembang itu artinya suatu tempat yang digenangi air.

Kota ini juga dijuluki Bumi Sriwijaya, karena pada abad ke-7 s/d 13 Masehi, Sumatera Selatan menjadi basis kekuasaan Kerajaan Sriwijaya dengan Palembang sebagai ibu kota kerajaan. Menurut Prasasti Kedukan Bukit, Kerajaan Sriwijaya dibangun pada tanggal 17 Juni 683 Masehi dengan raja pertama Jayanasa.

Pada masa jayanya, Sriwijaya dikenal sebagai pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan agama Budha di Asia Tenggara. Dulu, Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang kuat dan disegani di Asia Tenggara. Pengaruhnya hingga ke Cina dan Madagaskar di Afrika. Sriwijaya menguasai jalur perdagangan dan pelayaran antara laut Cina Selatan dan Samudera Hindia sehingga daerah ini menjadi sentra pertemuan antarbangsa. Kondisi ini menimbulkan transformasi budaya yang lambat laun berkembang dan membentuk identitas baru bagi Sumsel.

Wajar kalau kemudianPalembangmenjadikotayang penuh dengan nuansa romantisme (historical). Sebab banyak peninggalan bersejarah yang masih terpelihara dengan baik. Oleh karena itu, belakangan ini pemda menjadikanPalembangsebagaikotalegenda atauLegendaryCityuntuk menujukotatujuan wisata, perdagangan, dan investasi. Sekaligus sebagai spirit baru Kota Palembang yang multi kultural dan multi etnik.

Kota Palembang memiliki luas 400,61 Km2, secara administratif terbagi dalam 14 kecamatan dan 103 kelurahan. Populasi penduduknya hingga Desember 2004 kurang-lebih 1,5 juta orang.

Di Palembang masih dapat kita jumpai rumah khas Sumsel yang disebut Rumah Limas. Rumah ini atapnya berbentuk limas, berdinding papan dengan pembagian ruangan yang bertingkat-tingkat (kijing). Keseluruhan atap dan dinding serta lantai rumah bertopang di atas tiang-tiang yang tertanam di tanah. Rumah ini mempunyai ornamen dan ukiran yang khas. Pengaruh Islam sangat nampak pada ornamen maupun ukirannya. Kebanyakan rumah limas luasnya mencapai 400-1000 meter atau lebih, yang didirikan di atas tiang kayu Orgelen dan kayu Tembesu.

 

Taman purbakala kerajaan sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya Taman Arkeologis terletak di Karanganyar, kecamatan Ilir Barat II, kotamadyaPalembangdan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Desember 1994. Peristiwa yang sangat penting ditandatangani oleh penggantian tiruan Kedukan Bukit catatan yang menandakan kutub historis dari kelahiran Sriwijaya Kerajaan. Prasasti Kedukan Bukit memberikan catatan memberi suara Pallava dimana ditulis dalam Bahsa Melayu tua yang di deklarasikan oleh Dapunta Hiyang Sriyajanasa dan dua puluh ribuan tentara membangun suatu kerajaan yang disebut Sriwijaya pada tahun 606 Saka atau 683 AD di sekitar kaki Bukit Siguntang. Sejarah mencatat bahwa Kerajaan Sriwijaya telah menjadi yang kerajaan yang besar dan sangat berpengaruh di dalam kerajaan bahari dan Indonesia Bagian tenggaraAsiasepanjang Abad 7-13.

Taman Arkeologis Kerajaan Sriwijaya dibangun di Karanganyar. pada dasarnya menurut konsep dari keuntungan dan pemeliharaan warisan/pusaka dan sisa jaman kuno maka ditempatkan di lokasi ini. konsep ini Tujuan untuk menghargai nilai-nilai yang budaya dan memperkuat kebanggaan nasional dan bermanfaat bagi turis/wisatawan dan nilai-nilai bidang pendidikan.Adatiga gedung utama di dalam taman Musium yang dibangun untuk menampung koleksi sisa – sisa arkeologis Sriwijaya yang mana juga mencerminkan peran penting dari kerajaan dalam pengembangan tempo dulu, sejarah purbakala bangsa indonesian sepanjang abad ke 7 – 13. Aula yang besar disiapkan untuk acara pameran, seminar, dan lain – lain. Kemudian catatan yang membangun di mana tiruan Kedukan Bukit catatan dan Sriwijaya Kerajaan pejabat taman Arkeologis Pengumuman dijaga.Adajuga suatu pajangan batu bata struktur menggali dari Pulau Cempaka (Cempaka Pulau). Saluran yang saling behubungan ditemukan di dalam taman dan dapat dilalalui dari arah Musi sungai.

Menurut penafsiran yang dilakukan melalui pemotretan udara Karanganyar merupakan lokasi mewakili pusat air seperti berliku-liku di dalam awal Sriwijaya kerajaan. Penggalian dari lokasi telah muncul sisa batu bata struktur, fragmen tembikar, keramik, perahu merusak dan materi arkeologis yang lain.

Semua data yang betul-betul menunjukkan bahwa Karanganyar lokasi merupakan suatu posisi penting sepanjang umur/zaman Kerajaan Sriwijaya. Data itu adalah juga didukung oleh catatan seperti : patung dan benda – benda arkeologi lain ditemukan diPalembangdan sekitarnya. Dalam kaitan dengan pertimbangan dari bukti historis dan arkeologis, Karanganyar adalah daerah yang dipilih untuk menjadi penempatan Taman Arkeologis Kerajaan Sriwijaya.

Rumah Rakit – “Warung Legenda”

Adalah salah satu sarana kunjungan wisata diKotaPalembang, rumah rakit yang difungsikan sebagai rumah makan ini sangat unik karena posisinya yang terapung di atas Sungai Musi. Selain itu arsitektur pada bangunan ini dihiasi dengan ukiran timbul khasPalembangdengan warna merah dan emas.

Kawah Tengkurep

Terletak di Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II Palembang dan berjarak kurang lebih 3 Km dari pusatkota, obyek wisata ini merupakan komplek makam raja-rajaPalembangantara lain Sultan Mahmud Badaruddin I beserta guru beliau yaitu Imam Sayid Idrus Al Idrus. Selain itu terdapat makam istri-istri Sultan yaitu : Ratu Sepuh, Ratu Gading, Masayu Ratu (Liem Ban Nio) dan Nyimas Naimah.

 

Pulau Kemaro

Terletak disebelah timur Kota Palembang (±5 Km) dari pusatkotadengan luas wilayah ± 24 Ha. Potensi yang dikembangkan dipulau Kemaro ini wisata budaya dan wisata keagamaan.

MUSEUM SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II

Kota Palembang mempunyai dua buah museum salah satunya adalah Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang dikelola oleh Pemerintah Kotamadya Palembang.

BUKIT SIGUNTANG           

Bukit Siguntang letaknya di sebelah BaratkotaPalembang. Bukit yang tingginya sekitar 27 meter dari permukaan laut ini, pada zaman Sriwijaya merupakan tempat suci bagi penganut agama Budha. Menurut sejarah, di bukit itu bermukim sekitar 1.000 pendeta Budha. Hingga kini Bukit Siguntang masih dianggap sebagai tempat yang dikeramatkan.

Pada tahun 1920 di Bukit Siguntang ditemukan arca Budha bergaya Amarawati dengan wajah tipikal Srilangka dan diduga berasal dari abad XI Masehi. Arca tersebut kini diletakkan di halaman museumkotaSultan Mahmud Badaruddin, samping benteng Kuto Besak.

Dipuncak bukit terdapat kuburan kuno yang dikeramatkan penduduk. Salah satunya adalah kuburan Sigentar Alam yang dijadikan tempat bersumpah beberapa penziarah. Menurut legenda Sigentar Alam adalah seorang raja pada masa akhir Sriwijaya.

MONPERA    

Monumen ini terletak di tengah – tengahkotaPalembang. Monpera dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Sumatera Selatan ketika melawan penjajah. peristiwa tersebut dikenal dengan ” Pertempuran Lima Hari ” yang terjadi tanggal 1 Januari 1947.

Koleksi yang terdapat di Monumen ini berupa senjata yang dipergunakan untuk bertempur, dokumen perang dan benda yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Monumen ini dibuka untuk kalangan umum.

 

 Mesjid Agung Palembang

Mesjid Agung Palembang yang terletak di pusatkotajuga merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Palembang. Mesjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo mulai tahun 1738 sampai 1748.

Ukuran bangunan mesjid waktu pertama dibangun semula seluas 1080 meter persegi dengan daya tampung 1200 jemaah. Perluasan pertama dilakukan dengan wakaf Sayid Umar bin Muhammad Assegaf Altoha dan Sayid Achmad bin Syech Sahab yang dilaksanakan pada tahun 1897 dibawah pimpinan Pangeran Nataagama Karta mangala Mustafa Ibnu Raden Kamaluddin.

Perluasan kedua kali pada tahun 1930. tahun 1952 dilakukan lagi perluasan oleh Yayasan Mesjid Agung yang pada tahun 1966-1969 membangun tambahan lantai kedua sehingga luas mesjid sampai sekarang 5520 meter persegi dengan daya tampung 7.750.

 

 

Posted April 23, 2011 by Mubawisata

4 responses to “Palembang City

Subscribe to comments with RSS.

  1. jembatan ini photo harus tetap tersimpan buat anak cucu kita siiip banget

  2. iyaa betul betul betul

  3. beeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeettttttttttttttttuuuuuuuuuuuuuuuullllllllllllll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: