Desa Wisata di Sumatera Selatan   Leave a comment

Untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan, dan mengembangkan potensi pariwisata di Sumsel, Pemerintah Sumsel melalui Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel, Dinas Balitbangda Provinsi Sumsel dan pihak lainnya, membahas pembuatan peta seni budaya Sumsel, dan mempersiapkan desa-desa wisata di Sumsel.
Kepala Dinas Pariwisata Sumsel, M Jhonson mengatakan, pihaknya dengan beberapa pihak termasuk Balitbanda Sumsel, pada 2010 akan menyiapkan desa-desa antara lain 10 desa di beberapa kabupaten/kota antara lain di Ogan Ilir, Pagaralam, Lahat dan Muara Enim, untuk dijadikan desa wisata.
“Kita bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Sumsel, Dewan Kesenian Sumsel dan lainnya, membahas, menyiapkan peta seni budaya Sumsel dan desa wisata. Untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan dan pariwisata di Sumsel,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel, M Jhonson, disela seminar peran peta seni budaya dalam mendukung pariwisata, guna memacu peningkatan ekonomi kerakyatan, di Aula Kantor Balitbanda Sumsel kemarin Kamis (8/4).
Dijelaskannya, desa-desa yang terpilih menjadi desa wisata harus memenuhi kriteria seperti daya tarik wisata, budaya, kerajinan kerakyatan, faktor aksebilitas, basis, budaya, kondisi alam dan lainnya. Berdasarkan penilaian pihaknya, desa yang sekarang sudah masuk kriteria desa wisata tersebut, yaitu desa wisata Muara Penimbung Ogan Ilir (OI), Desa Ulak Kerbau dengan kerajinan bordirnya dan lainnya.
“Pagar Alam, Lahat dan Muara Enim juga memiliki berbagai keindahan alam dan budaya untuk dijadikan tujuan wisata, untuk Kota Pagaralam dan Lahat memiliki peninggalan megalit dan Muara Enim ada Desa Bedegung,” ungkap Jhonson.
Dengan berjalannya desa wisata, tentu akan meningkatkan ekonomi kerakyatan, sektor UKM, kerajinan dan lainnya akan bergerak di desa atau kabupaten yang memiliki desa wisata tersebut. Namun sambung dia, keberhasilan desa wisata tidak hanya berdasarkan keinginan kuat pemerintah saja, kesiapan masyarakat setempat untuk menjadi masyarakat yang sadar wisata juga sangat diperlukan. “Kita akan lakukan pembinaan bagi desa-desa yang memenuhi kriteria itu, dan akan dikembangkan ke desa lainnya,” jelas dia.
Masih di Kantor Balitbangda Sumsel, Kepala Balitbangda Provinsi Sumsel, DR Ekowati Ratnaningsih SKM, MKes, menjelaskan, peran peta seni budaya dalam mendukung pariwisata di Sumsel sangat diperlukan, untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan khususnya di desa-desa wisata.
“Dalam seminar ini, kita akan membahas dimana saja kabupaten/kota yang memiliki desa-desa yang memasuki kriteria desa-desa wisata, untuk mempermudah wisatawan mencari tujuan wisata di Sumsel seperti potensi kerajinan, budaya dan lainnya,” jelas dia.
Untuk mendukung dibuatnya peta wisata tersebut, pihaknya akan bekerjasama berbagai pihak seperti dari Association of Indonesia Tours and Travel Agents (Asita), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Dewan Kesenian Sumsel, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel dan lainnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan (Sumsel), Euis Rosmiati mengatakan akan mengoptimalkan desa wisata untuk menarik wisatawan datang ke daerah tersebut, selain ke Sungai Musi yang menjadi ikon Kota Palembang.

“Saat ini baru ada empat desa wisata yang ditawarkan kepada wisatawan tetapi dalam waktu dekat kami akan memperbanyak lokasi wisata tersebut,” katanya di Palembang, Rabu (08/4).

Menurut dia, berbagai produk unggulan khas daerah akan dimaksimalkan agar menarik wisatawan berkunjung ke Sumsel. Ia mengatakan, guna mendorong terciptakan objek wisata menarik di Sumsel pihaknya telah meminta pemerintah kabupaten/kota meningkatkan produk unggulan dan objek wisata.

“Produk unggulan, seperti kerajinan tangan dan makanan khas daerah dan objek wisata harus disediakan dan dikemas dengan baik sehingga menarik pengunjung datang,” katanya.

Dia menjelaskan, dengan dikembangkannya desa wista pihaknya yakin tidak hanya wisatawan lokal tetapi wisatawan asing pun akan tertarik berkunjung ke daerah itu.

“Apalagi Sumsel memiliki keanekaragaman seni, budaya dan adat istiadat serta kekayaan sumber daya alam yang khas,” ujarnya.

Saat ini desa wisata baru terdapat di empat daerah yaitu Kabupaten Lahat dengan Desa Merapi, Muara Enim Desa Bedegung, dan Ogan Komering Ulu Desa Banding Agung serta Kota Pagar Alam Desa Tanjung Sirih.

Desa-desa itu memiliki kekhasan antara lain Desa Bedegung memiliki kekhasan dalam kekayaan alam di ketinggian dan keberadaan Sungai Enim, yang sangat menantang para pecinta olah raga arung jeram.

Desa Merapi unggul di sektor ekoturisme karena terdapat banyak rumah berarsitektur tradisional “besemah”, yang berbeda dari kebanyakan rumah limas di Sumatera Selatan. Arsitektur tersebut sarat dengan nilai-nilai filosofis yang masih dianut sampai kini.

“Sedangkan Desa Tanjung Sirih dan Desa Banding Agung dari sisi ekoturisme serta keindahan alam yang khas dipenuhi oleh berbagai kekayaan alami dengan panorama yang menawan,” katanya.

SADAR wisata sepertinya menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel). Beberapa desa di wilayah provinsi ini memiliki kelebihan dan ketersediaan dalam pariwisata. Bahkan ada yang telah memiliki sarana dan prasarana pariwisata secara turun temurun. Seperti empat kabupaten di Provinsi Sumsel yang bisa menjadi desa wisata, karena di daerah itu memiliki potensi wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Karena ketersediaan sarana dan prasaran itulah, menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Euis Rosmiati, di Palembang, Rabu (27/05/2009), empat kabupaten yang rencananya akan menjadi desa wisata itu adalah Kabupaten Ogan Ilir, Pagar Alam, Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan dan OKU. Menurut dia, empat kabupaten dan kota itu memiliki “home stay”, namun perlu ditingkatkan standarisasi wisatanya sehingga wisatawan mau tinggal di sana. Untuk menjadikan daerah itu menjadi desa wisata, maka dilakukan kunjungan ke Bali guna melihat desa wisata yang ada di Pulau Dewata tersebut, katanya.

Ia mengatakan, kalau desa wisata itu memang memperlihatkan kebudayaan daerah setempat, tetapi harus diimbangi dengan “home stay” yang nyaman untuk menjadi tempat tinggal bagi wisatawan. Ia mencontohkan, di Banding Agung, Kabupaten OKU Selatan itu ada tujuh “home stay,” tetapi yang layak hanya dua unit dari jumlah yang ada tersebut. Ia menyatakan, mengenai jumlah “home stay” tergantung dengan daerah itu pula apakah wisatanya ramai, kalau memang ramai tentunya jumlahnya juga banyak.

“Home stay” ini pula harus memenuhi standar pariwisata seperti kamar mandinya yang tadinya tidak dilengkapi tissue maka dilengkapi, kemudian toiletnya harus baik dan bersih. “Kita juga berencana akan membantu untuk memperbaiki fasilitas tersebut,” kata dia.

Untuk memberikan bantuan perbaikan fasilitas itu rencananya baru akan diusulkan pada tahun anggaran 2010.

Posted Februari 4, 2016 by Mubawisata in Cultur and Tradition

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: